Tekan Angka Stunting, Camat Lobalain Intruksikan Warganya Wajib Miliki Kebun Gizi

oleh -72 Dilihat
Nusry E. Zacharias,SE

 

ROTE NDAO, METROTIMOR.ID–Komitmen Bupati Rote Ndao, Paulina Haning Bullu,SE dalam menangani permasalahan gizi buruk dan kasus Stunting  di 11 Kecamatan di Kabupaten Rote Ndao  yang dipimpinnya terus diwujudkan dalam berbagai upaya dan didukung Organisasi Perangkat Daerah termasuk di kecamatan Lobalain.

Kecamatan Lobalain melakukan beberapa terobosan strategis yang wajib dilakukan warga masyarakatnya yang bersomisili di 17 Desa Kelurahan.

Menurut Nusry, masyarakat kalau pemerintah tidak membuat aturan, mereka menganggap itu cuma himbauan biasa.

“Target saya itu di tahun 2024, sesuai dengan arahan Pak Gubernur dan Mama Bupati, stunting di Lobalain pasti menurun,” tegas

Adapun dalam penjelasannya, Nusry menjelaskan, kalau berbicara stunting beda dengan gizi buruk. Dikatakannya, stunting itu bawaan dari lahir, terbawa dari gen. Kemudian, ada juga yang setelah lahir baru mengalami stunting.

 

demikian diungkapkan  Camat Lobalain, Nusry Zacharias,SE  kepada media ini  di ruang kerjanya pada Rabu, (23/11/2022)

“Di Kecamatan Lobalain, saya dan teman-teman kepala desa maupun lurah semua, kami sudah melakukan rembuk stunting tingkat kecamatan,” kata Nusry.

Rembuk stunting ini, dijelaskannya, dalam rangka menurunkan angka stunting.

“Langkah pertama, kita ambil dari pasangan usia subur. Pasangan usia subur sebelum menikah, perlu kita melakukan sosialisasi kepada mereka,” sebut Nusry.

Sehingga, lanjutnya, suatu saat berumah tangga, anak-anak jangan stunting dengan pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan bergizi.

Bagi Nusry, anak yang stunting selain berasal dari gennya, tapi salah satunya, ibu tidak mengonsumsi makanan bergizi.

Kebanyakan di desa maupun kelurahan, dikatakannya, ibu-ibu sering berasumsi bahwa yang penting makan dan kenyang.

“Tapi dia tidak tahu, suply makanan yang masuk ke dalam tubuh, yang juga di dalamnya ada bayi, mengandung gizi atau tidak. Itu yang kadang ibu-ibu tidak pahami,” terang Nusry.

Lalu, masih kata dia, ibu-ibu hamil terkadang lupa atau tidak makan dengan alasan tuntutan ekonomi.

“Terpaksa ibu bangun pagi, lalu pergi kerja, lupa makan sementara anak di dalam kandungan butuh makanan. Nah ini yang kita sosialisasi,” tandasnya.

Kedua, tim percepatan penurunan angka stunting kecamatan maupun desa di wilayah Lobalain memberikan konseling kepada pasangan nikah.

“Bagi pasangan yang mau menikah di Lobalain, saat mereka memasukan dokumen, tim percepatan penurunan stunting tingkat kecamatan memberikan pemahaman,” ujar Nusry.

Ia melanjutkan, pemahaman yang diberikan seperti, apabila sudah menikah, dan pasangan berencana punya anak, harus ada kiat-kiat yang perlu dilakukan. Semisal, ibu hamil selama 1 bulan sampai 9 bulan melahirkan, harus mengonsumsi makanan seperti apa.

“Di dalam tim percepatan penurunan angka stunting yang saya sudah SK-kan, kita libatkan dari tenaga kesehatan Puskesmas Ba’a, khususnya dari bagian gizi,” sebut Nusry.

Jadi, diterangkannya, dari bagian gizi nanti akan sampaikan, hamil satu bulan makan apa, dua bulan makan apa, sampai ibu itu melahirkan.

Ketiga, untuk anak-anak yang sudah lahir dan stunting, maka wajib tim percepatan penurunan stunting kecamatan dan tim percepatan penurunan stunting desa, setiap satu  bulan melakukan monitoring.

“Terkait dengan pemberian makanan tambahan, kita tidak bisa menjadikan itu sebagai ukuran penurunan stunting. Tetapi bagaimana kita merubah mindset dari ibu-ibu yang menyusui supaya anak-anaknya jangan stunting,” tegas Nusry.

“Tujuan kita monitoring setiap bulan untuk memberikan pemahaman kepada ibu-ibu menyusui agar anak itu mendapat ASI eksklusif,” sambungnya.

Menurutnya  di Kecamatan Lobalain sekali lagi menegaskan, anak dari 0-6 bulan wajib mendapatkan ASI eksklusif.

“Jangan sampai ibu berpikir harus pergi bekerja untuk dapat uang, lalu mengabaikan anaknya, itu tidak boleh. Dan langkah-langkah ini sudah kita sepakati bersama,” pungkasnya.

Nusry menyebutkan, khusus di Kecamatan Lobalain, anak-anak yang stunting sebanyak 507 orang.

“Kita sudah rapat dengan Dinas P3AP2KB, di situ saya sampaikan bahwa strategi yang saya mainkan demikian, dalam rangka penurunan angka stunting,” cetus Nusry.

Ia menjamin kalau langkah-langkah strategis ini sudah diterapkan dengan baik, maka angka stunting di Kecamatan Lobalain pasti menurun.

“Kita tetap memberikan motivasi kepada kepala keluarga atau istrinya, agar memperhatikan pola makan anak dengan tepat waktu,” ungkapnya.

Selain itu, Nusry juga menerangkan, setiap rumah tangga yang punya anak bayi entah anaknya stunting atau tidak, wajib punya kebun gizi.

“Harus ada kebun sayur di pekarangan rumah. Jadi mau makan sayur tidak lagi pergi beli di pasar. Karena sayur itu punya kandungan gizi,” katanya.

Kemudian, masih menurutnya, di samping pemerintah memberikan bantuan hewani, dalam bentuk ayam dan telur misalnya, tetapi dirinya sudah sampaikan kepada setiap kepala desa agar wajib membuat peraturan desa, dengan perihal, setiap ibu yang hamil atau menyusui, wajib punya kebun gizi dan wajib pelihara ayam.

(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.