Bupati Paulina Ajak Masyarakat Rote Ndao Dukung ‘Bahoruk’ di Ajang API Award 2022

oleh -39 Dilihat
Bupati Rote Ndao, Paulina Haning-Bullu,SE dan Wakil BUpati Stefanus Saek,SE.M.Si

Setelah tahun 2020 Mulut Seribu meraih juara 2 kategori Surga Tersembunyi dan tahun 2021 Telaga Nirwana menyabet juara 1 kategori Wisata Air, tahun ini, kembali Kabupaten Rote Ndao menempatkan Bahorok  pada event nasional Anugerah Pesona Indonesia (API) Award tahun 2022 untuk kategori Atraksi Budaya.

Hal tersebut disampaikan Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu seperti dilansir victorynews.id, Jumat (03/06/2022).

Menurut Bupati Paulina, dalam rangka mempromosikan pariwisata, Pemkab Rote Ndao terus berupaya mengikutsertakan potensi wisata alam dan atraksi budaya yang merupakan kekayaan Rote Ndao dalam ajang API Award, yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf).

Pemkab Rote Ndao melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, kata Bupati Paulina, telah mendaftarkan atraksi budaya Bahorok (Pukul Kaki) ke Panitia Lomba API Award 2022 pada bulan Maret 2022 lalu.

Setelah dilakukan seleksi oleh pihak panitia melalui curator, Bahorok terpilih dalam jajaran 10 besar nominasi API Award 2022 kategori atraksi budaya, dari 1800 peserta yang mengirim video lomba.

Untuk itu, kata Bupati Paulina, seluruh masyarakat Rote Ndao diharpkan memberikan dukungan melalui SMS, dengan cara Ketik: API  13A kirim ke 99386.

Selain itu, kata dia, dukungan juga bisa dilakukan dengan cara like, comment, dan share video Bahorok di channel resmi Youtube Visit Rote Ndao milik Disbudpar Rote Ndao kepada seluruh keluarga, kerabat, handai taulan, dan teman.

Voting dimulai pada 1 Juni hingga 31 Oktober 2022 mendatang, dengan menggunakan saluran seperti short message service (SMS), video YouTube API Award, feed Instagram, serta Facebook.

“Saya ajak seluruh masyarakat Rote Ndao untuk beri dukung kepada Bahorok  di ajang API Award 2022 melalui SMS dan juga like, comment, dan share video Bahorok  di channel resmi Youtube Visit Rote Ndao milik Disbudpar Rote Ndao, mulai sekarang sampai 31 Oktober 2022 mendatang,” kata Bupati Paulina.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rote Ndao Yesy Dae Pany menjelaskan, budaya Bahorok  atau dalam istilah lainnya disebut  Maliueik, merupakan tradisi turun temurun yang dimainkan oleh masyarakat di Kecamatan Rote Tengah, Pantai Baru, Rote Timur, dan Landuleko.

Sesuai penuturan para tetua, sejarah Bahorok  awalnya tercipta saat dua orang remaja bernama Makaresi Lai dan Parani Rao di sela-sela kegiatan sehari-hari sebagai penggembala sapi dan kerbau di padang, saling ejek dan disepakati untuk melakukan pukul kaki untuk menguji kekuatan/kekebalan.

Dalam perjalanannya, tradisi Bahorok  kini masih dipertahankan dan dilakoni terutama masyarakat Rote Tengah, Pantai Baru, Rote Timur, dan Landuleko, jika ada warga yang meninggal dunia. Pada malam ke 5, 7, dan 9 mereka menggelar Bahorok  untuk menghibur keluarga yang berduka.

Bahorok dilakukan oleh 2 orang laki remaja atau dewasa. Bagian organ kaki yang vital ditutup dengan lave atau selimut adat khususnya pada lutut dan mata kaki. Pukulan hanya menyasar pada betis lawan. Setelah salah satu memukul, maka bersiap-siap yang satu lagi balik memukul secara bergantian,” ujarnya.

Alat yang digunakan untuk memukul kaki, yakni kayu atau rotan. Pada saat akan mengambil kayu atau rotan untuk digunakan, didahului ritual adat. Hal ini dimaksudkan agar kayu yang mereka pukul bisa membuat lawan jera dengan sekali pukulan.

Saat akan melakukan pertarungan Bahorok, biasanya betis petarung diolesi minyak terlebih dahulu. Selain itu, lutut dan mata kaki petarung diikat dengan lave (selimut adat).

Selesai melakukan kegiatan pukul kaki, kedua petarung tadi bersalaman, berpelukan tanpa ada dendam dan mengakui kekuatan lawan saat dilakukan bahoruk tadi.

 

“Filosofi dari Bahorok menegaskan bahwa laki-laki Rote memiliki kekuatan khususnya di bagian kaki. Hal ini juga merupakan pembuktian bahwa laki-laki Rote mampu bertahan memanjat pohon tuak saat musim panen air nira, mampu panjat 15-25 pohon per hari, tetap menjaga sportivitas meski dilakukan petarungan fisik, tidak menyimpan dendam akan tetapi menangakui kelebihan lawan yg menjadi teman,” tutup Yesy. ***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.