Keluarga Pasien Usus Buntu Tolak Dicovidkan oleh RSU Ba’a

oleh -2.670 views
, Metro Timor

Editor: Agustinus Bobe,

ROTE NDAO,METROTIMOR.ID–Warga Desa Sanggoen, Kecamatan Labolaian, Kabupaten ROTE Ndao  ,Provinsi NTT, Felipus Sooai (50) mengakui sangat menyesal atas pelayanan para oknum petugas RSUD Ba’a karena anaknya   bernama Lovi Dewanta Sooai (14) sebagai pasien  Operasi usus buntu atau apendektomi.

Namun  dioperasi dan langsung divonis sebagai pasien Covid-19 oleh pihak RSUD tersebut.

Pihak keluarga pun menilai bahwa  vonis itu sangat aneh  karena dokter tidak menunjukan hasil swebnya,”ungkap Felipus Sooai kepada Metrotimor.id, Minggu (18/7/2021)

Menurut Felipus, peristiwa ini bermula pada Jumat 8 Juli 2021,pihak keluarga memutuskan agar anak mereka Lovi dibawa ke RSU Ba’a untuk perawatan karena mengalami sakit dibagian perut.

Setelah tiba di RSUD Ba’a dokter memvonis derita penyakit usus buntu dan harus segera dioperasi.

Namun pada Sabtu 10 Juli 2021, Lovi dioperasi usus buntu, Minggu hingga Selasa Pasien masih dalam perawatan di RSUD Ba’a, tetapi kondisi pasien mengalami perdarahan pada luka operasi sehingga dokter kembali meminta pasien tersebut untuk kembali dioperasi dengan alasan untuk pembersihan luka bagian dalam sehingga perlu dioperasi, keluarga pasien karena tidak mengerti medis kembali meneken surat persetujuan untuk operasi tahap II.

Dengan demikian dokter kembali melakukan operasi kepada pasien tersebut, dan kembali mendapatkan perawatan di RSUD Ba’a sebagai pasien operasi, dari Kamis 15 Juli 2021 hingga Sabtu  2021.

Baca Juga:  Uksam Selan Bagi Masker Gratis Di Desa Oekiu

Hari Sabtu pagi,sekira pukul 9.00 Wita, ayah pasien kembali ditelepon oleh parawat untuk mendatangi RSUD karena anjuran dokter untuk kembali dioperasi dengan alasan ada kesalahan dalam tubuh pasien.

Ayah Pasien Felipus Sooai saat mendatangi untuk operasi anaknya.

Dirinya menolak karena harus berkonsultasi lagi dengan keluarga besarnya. Tetapi.keluarga besar menolak untuk operasi ketiga.

Karena menolak, jelang beberapa saat kemudian dokter tidak jadi untuk operasi, ayah pasien dipanggil oleh petugas kesehatan yang bertugas untuk  segera meneken surat yang disiapkan RSUD, karena pasien atas nama Lovi posetif Covid-19.

Mendengar hal tersebut Felipus memohon kepada Nakes agar bertemu dengan anaknya, nakes mengijinkan tapi syaratnya harus meneken surat siap untuk pinda ke ruang isolasi, karena agar anaknya di rawat di ruang isolasi Covid.

Felipus hendak meneken surat tersebut, tapi minta syarat dirinya membesuk anaknya dan disetujui nakes, dan ia membesuk dan meminta agar anaknya dirawat tapi dijaga oleh istrinya, Marce Mboik, Nakes tersebut beberapa saat pergi konsultasi ke atasannya, dan menurut nakes atasannya mengijinkan agar pasien Lovi bisa dijaga oleh ibunya Marce Mboik.

Menurut Felipus ada beberapa kejanggalan dalam penetapan pasien covid, pasalnya dirinya tidak diberikan bukti Rapid tes yang menyatakan anaknya  positif Covid.

Dan saat istrinya di swap hasilnya negatif Covid. Selain itu hingga Minggu 18 Juli 2021 dirinya dan keluarga yang sering besuk anaknya sakit tidak didatangi petugas untuk dilakukan tresing covid.

Baca Juga:  Bingung Tentukan Kriteria Rumah Rusak, Simak Penjelasan BNPB

Kedua, dirinya mengaku kesal kenapa anaknya dioperasi berulang kali penyakit yang divonis dokter usus buntu,tapi operasi berulang kali, bahkan jika dirinya mengijinkan sudah dioperasi 3 kali.

Selain itu,dirinya juga tidak pernah mendapat hasil ronsen yang membuktikan anaknya usus buntuh.

Ketiga, ibunda dari Lovi tidak dirapid tes walau saat ini mendampingi Lovi di ruang isolasi Covid. Selain itu hasil positif covid anaknya tidak ditunjukan kepala keluarga sementara pasien yang jenis penyakit apa saja ditunjukan dokter hasil ronsennya.

“Saya duduk pantau semua pasien yang divonis penyakit apa saja, hasilnya ditunjukan, tapi anak saya tidak ditunjukan hasil ronsennya,”

Menurut Felipus dengan persoalan ini, dirinya dirugikan karena mendapat sanksi sosial dari masyarakat bahwa derita penyakit covid sehingga interaksinya dengan masyarakat dibatasi, selain itu professional tenaga medis juga dinilai merugikan dirinya dan keluarganya.

Dirinya secara pribadi menduga karena engan menyetujui untuk jalani operasi ketiga anaknya maka dicovidkan ,”kata Felipus kesal.

Felipus yang kesaharian berprofesia sebagai petani berharap agar kisah kelam ini hanya dialami dirinya, Jangan dialami oleh warga ROTE Ndao lainya, dengan pemberitaan ada pasien yang serupa jangan lagi mengalami nasih seperti ini,”kata Felipus kesal.

Lovi pasien covid kepada media ini via telepon mengaku indra perasa dirinya normal , tidak seperti ciri derita covid seperti indra perasa hilang.

Baca Juga:  Kodim 1603/ Sikka Gelar Aksi Baksos Bagi Sembako di Maumere

 

Direktur dr. Widyanto Pangarso Adhy, M.Biomed, Sp.PD. ketika ditemui metrotimor.id diruang kerjanya, Senin (19/7/2021) mengaku pasien atas nama Lovi dewanton sooai warga desa Sanggoen benar saat ini dirawat diruang isolasi Covid-19.

, Metro Timor
Ruang Isolasi Penderita Covid di RSUD Ba’a, Senin (19/7/2021) foto : ist

Memang awal pasien tersebut masuk bukan penyakit covid awalnya masuk karena penyakit usus buntu, pihak medis saat merawat dan hendak operasi melakukan swap antigen dan hasil laboratorium sehingga yang bersangkutan dipindahkan ke ruang isolasi covid.

Ditanya, protab pasien covid semestinya tidak bisa didampingi keluarga saat isolasi. Ia mengaku atas permintaan keluarga sehingga pihak RSU Ba’a mengijinkan.

Lebih lanjut, kata dr. Widyanto Pangarso Adhy, M.Biomed, Sp.PD. Pihak RSU akan melakukan rapid tes ulang maksimal 10 hari, untuk mengetahui hasilnya.

Terkait permintaan pasien, mengapa tidak ada tim covid yang turun untuk melakukan swap bagi pasien dan keluarga, ia mengatakan pihak puskesmas Ba’a yang akan turun melakukan rapid kepada keluarga yang berhubungan dengan pasien tersebut.

Menurut Direktur, ada juga warga yang terpapar covid tanpa gejala, sehingga sudah ada pembuktian dari lab bahwa covid sehingga pihak RSUD mengisolasi pasien tersebut, pihak RSUD juga tidak mau agar banyak orang terpapar covid sehingga membantah kalau ada informasi bahwa RSUD mengcovidkan pasien.

(**)